Wilayah pesisir adalah suatu jalur saling mempengaruhi antara darat dan laut, yang memiliki ciri geosfer yang khusus, ke arah darat dibatasi oleh pengaruh sifat-sifat fisik laut dan sosial ekonomi bahari, sedangkan ke arah laut dibatasi oleh proses alami serta akibat kegiatan manusia terhadap lingkungan di darat. Pada bentang lahan pesisir (coastal landscape) tercakup perairan laut yang disebut dengan pantai atau tepi laut, suatu daerah yang meluas dari titik terendah air laut pada saat surut hingga ke arah daratan sampai mencapai batas efektif dari gelombang. Pertemuan antara air laut dan daratan ini dibatasi oleh garis pantai (shore line), yang kedudukannya berubah sesuai denga kedudukan pada saat pasang surut, pengaruh gelombang dan arus laut.
Ekosistem pantai merupakan salah satu lahan basah yang memiliki berbagai manfaat. Namun manfaat tersebut juga terancam oleh berbagai bencana atau dinamika ekosistem pantai yang seringkali melanda pesisir pantai sehingga dapat mengurangi manfaat tersebut. Secara ekologis terdapat fenomena dinamis seperti: abrasi, akresi, erosi, deposisi dan intrusi air laut. Di samping itu, masih terdapat juga fenomena nonalamiah seperti: pembabatan hutan mangrove untuk pertambakan, pembangunan dermaga/jetty untuk pendaratan ikan dan reklamasi pantai. Gejala yang umum terjadi di wilayah kepesisiran adalah interaksi faktor alam dan aktivitas manusia secara bersamaan, sebagai penyebab adanya ketidakseimbangan siklus biogeokimia (Cook dan Doornkamp, 1990). Permasalahan lingkungan lain yang sering terjadi diwilayah perairan pantai, adalah; pencemaran, banjir, dan penurunan biodiversitas pada ekosistem mangrove dan rawa, serta permasalahan sosial ekonomi.
Pesisir Pantai Tabanio menghadapi salah satu ancaman ekologis tersebut yaitu abrasi, dimana abrasi yang terjadi pertahunnya sekitar 5-7 m. Nilai ini merupakan nilai yang tergolong besar dan mencengangkan. Jika tidak segera diambil tindakan cepat dan serius dapat diperkirakan kerusakan yang ditimbulkan di masa mendatang dan akibatnya bagi masyarakat dan generasi penduduk di desa ini khususnya dan masyarakat Kalimantan Selatan pada umumnya.
Masalah yang tidak kalah penting di daerah Pesisir Tabanio adalah masalah kiriman sampah dari hempasan gelombang pantai. Di daerah ini seringkali dihampiri sampah baik organik (bagian tumbuhan dan kotoran hewan) dan anorganik karena memiliki jarak yang dekat dengan muara. Sampah yang datang dari darat dan hanyut terbawa arus sungai akan tertumpuk di daerah muara, dan dengan adanya gelombang dari laut akan menggerakkan sampah dan menyebarkannya ke tepi pantai di dekatnya.
Endapan lumpur dari daerah muara merubah warna air di tepi pantai. Lumpur dari daerah muara ini akan mengalir ke pantai dan semakin lama akan terdorong ke samping akibat arus sungai dan gerakan gelombang air laut. Banyaknya lumpur mengakibatkan warna air menjadi keruh dan terjadi pendangkalan di daerah sekitarnya sehingga jika terjadi air pasang dapat mengakibatkan banjir yang membawa lumpur ini ke daratan. Jarak antara garis air pantai dengan bibir pantai ± 10 m dengan perkiraan abrasi pertahunnya sekitar 5 m. Masalah ini dapat mengurangi keindahan Pantai Tabanio, ditambah lagi dengan penumpukan lumpur sehingga air pantai tampak keruh. Oleh karena itu diperlukan tindak lanjut dalam pengelolaan pesisir ini.
Vegetasi yang mendominasi di Pesisir Tabanio adalah jenis tumbuhan yang toleran terhadap kondisi salinitas yang tinggi. Formansi yangtinggo formasi vegetasi alami meliputi golongan herba seperti kangkung darat (Ipomaea pes-caprae), tapak liman (Elephantopus scaber), jenis rerumputan rumput pantai (Paspalum vaginatum), dan golongan pohon seperti waru (Hibiscus tiliaceus), pandan (Pandanus tectorius), mangga (Mangifera indica), kedondong (Spondias dulcis), serta semak seperti orok-orok (Chrotalaria sp) dan lainnya. Jenis fauna yang banyak ditemui di sekitar pantai adalah kepiting kecil, burung, dan ikan.
Endapan lumpur dari daerah muara merubah warna air di tepi pantai. Lumpur dari daerah muara ini akan mengalir ke pantai dan semakin lama akan terdorong ke samping akibat arus sungai dan gerakan gelombang air laut. Banyaknya lumpur mengakibatkan warna air menjadi keruh dan terjadi pendangkalan di daerah sekitarnya sehingga jika terjadi air pasang dapat mengakibatkan banjir yang membawa lumpur ini ke daratan. Jarak antara garis air pantai dengan bibir pantai ± 10 m dengan perkiraan abrasi pertahunnya sekitar 5 m. Masalah ini dapat mengurangi keindahan Pantai Tabanio, ditambah lagi dengan penumpukan lumpur sehingga air pantai tampak keruh. Oleh karena itu diperlukan tindak lanjut dalam pengelolaan pesisir ini.
Vegetasi yang mendominasi di Pesisir Tabanio adalah jenis tumbuhan yang toleran terhadap kondisi salinitas yang tinggi. Formansi yangtinggo formasi vegetasi alami meliputi golongan herba seperti kangkung darat (Ipomaea pes-caprae), tapak liman (Elephantopus scaber), jenis rerumputan rumput pantai (Paspalum vaginatum), dan golongan pohon seperti waru (Hibiscus tiliaceus), pandan (Pandanus tectorius), mangga (Mangifera indica), kedondong (Spondias dulcis), serta semak seperti orok-orok (Chrotalaria sp) dan lainnya. Jenis fauna yang banyak ditemui di sekitar pantai adalah kepiting kecil, burung, dan ikan.
Adapun solusi yang dapat ditempuh untuk mengatasi abrasi yang terjadi diantaranya dengan penanaman hutan bakau, pembangunan siring, serta memberikan penyuluhan kepada warga desa (pendekatan), dan memasukkan pendidikan lingkungan berbasis pantai dalam kurikulum pendidikan sejak dini atau dasar. Sementara untuk masalah sampah, diperlukan keterlibatan ”tangan kreatif” untuk memberikan sentuhan seni dan pemanfaatan untuk pembuatan energi alternatif seperti pembuatan briket sampah dari sampah organik, pembuatan kompor biogas dan lainnya.
Damit
Damit adalah salah satu daerah yang memiliki bendungan dan merupakan salah satu daerah tangkapan air yang sangat penting yang terletak di kawasan selatan Pulau Kalimantan. Bendungan ini dikelilingi oleh bukit yang sebagiannya banyak ditanami dengan kelapa sawit dan karet atau bisa dikatakan berupa vegetasi yang homogen, tapi sebagiannya lagi berupa bukit gundul yang tampak sebagai hamparan ilalang. Pada awal terbentuknya danau ini mula-mula hanya berupa danau kecil, tetapi semakin lama air hujan yang mengalir dari perbukitan di sekitarnya tidak terbendung karena kemampuan penyerapan air hujan semakin berkurang akibat turunnya jumlah pepohonan atau hutan disekitarnya, ditambah lagi dengan penanaman kelapa sawit yang bersifat rakus air tetapi tidak begitu baik dalam menyimpan atau menyerap air menjadikan danau ini semakin melebar dan menenggelamkan daerah disekitarnya.
Damit
Damit adalah salah satu daerah yang memiliki bendungan dan merupakan salah satu daerah tangkapan air yang sangat penting yang terletak di kawasan selatan Pulau Kalimantan. Bendungan ini dikelilingi oleh bukit yang sebagiannya banyak ditanami dengan kelapa sawit dan karet atau bisa dikatakan berupa vegetasi yang homogen, tapi sebagiannya lagi berupa bukit gundul yang tampak sebagai hamparan ilalang. Pada awal terbentuknya danau ini mula-mula hanya berupa danau kecil, tetapi semakin lama air hujan yang mengalir dari perbukitan di sekitarnya tidak terbendung karena kemampuan penyerapan air hujan semakin berkurang akibat turunnya jumlah pepohonan atau hutan disekitarnya, ditambah lagi dengan penanaman kelapa sawit yang bersifat rakus air tetapi tidak begitu baik dalam menyimpan atau menyerap air menjadikan danau ini semakin melebar dan menenggelamkan daerah disekitarnya.
Siklus Hidrologi yang terjadi di Bendungan Damit yaitu proses evaporasi yang merupakan proses penguapan air ke atmosfer dari tubuh-tubuh air yang ada di bumi baik dari laut, sungai atau anak sungai kecil dan dari danau. Kemudian dilanjutkan dengan proses evapotranspirasi yang merupakan gabungan dari proses penguapan air yang terkandung di tanah yaitu soil moisture dari zona perakaran dan aktivitas vegetasi (transpirasi) dengan proses evaporasi serta proses terakhirnya adalah presipitasi (hujan) yang merupakan proses mengembalikan air tersebut dari atmosfer ke Bendungan Damit.
Masyarakat di daerah ini hidup dari bertani, budidaya ikan, berkebun, dan lain-lain. Air yang mengalir dari bendungan dibuat irigasi kecil di sepanjang sawah dan kebun sehingga dapat mencukupi kebutuhan perairan sawah dan perkebunan di daerah tersebut. pH air hasil pengukuran adalah 8 dengan warna air jernih atau tidak begitu keruh. Kecepatan arus air yang mengalir di sepanjang irigasi termasuk deras, sehingga air yang berasal dari bendungan memiliki peran yang sangat penting bagi pengairan di sawah dan kebun.
Masyarakat di daerah ini hidup dari bertani, budidaya ikan, berkebun, dan lain-lain. Air yang mengalir dari bendungan dibuat irigasi kecil di sepanjang sawah dan kebun sehingga dapat mencukupi kebutuhan perairan sawah dan perkebunan di daerah tersebut. pH air hasil pengukuran adalah 8 dengan warna air jernih atau tidak begitu keruh. Kecepatan arus air yang mengalir di sepanjang irigasi termasuk deras, sehingga air yang berasal dari bendungan memiliki peran yang sangat penting bagi pengairan di sawah dan kebun.
Jika dilakukan pengelolaan yang baik, Bendungan Damit memiliki potensi yang besar sebagai daerah tangkapan air, tetapi dilihat dari kondisi hidrologi dan kondisi perbukitan yang mengelilinginya Danau Damit ini tidak begitu baik untuk dijadikan daerah tangkapan air. Karena dapat dibayangkan jika terjadi hujan yang sangat lebat dan berlangsung lama dapat mengakibatkan longsor atau erosi dan meluapnya air danau dan jebolnya tanggul, sehingga dapat menyapu atau merendam sawah disekitarnya yang dapat merugikan sawah para petani dibawahnya.
Solusi
Adapun hal-hal penting yang dapat dilakukan untuk menjaga danau ini sehingga tidak menimbulkan dampak negatif dikemudian hari adalah:
1. penyusunan program pelestarian sumberdaya air dan tanah.
2. pelaksanaan program pelestarian
3. reboisasi, penghijauan dan konservasi tanah (teras bangku)
4. dalam embuatan petak percontohan dan penyuluhan
5. pembuatan bangunan pengendali erosi dan sedimen untuk mengurangi resiko yang dapat terjadi
Solusi
Adapun hal-hal penting yang dapat dilakukan untuk menjaga danau ini sehingga tidak menimbulkan dampak negatif dikemudian hari adalah:
1. penyusunan program pelestarian sumberdaya air dan tanah.
2. pelaksanaan program pelestarian
3. reboisasi, penghijauan dan konservasi tanah (teras bangku)
4. dalam embuatan petak percontohan dan penyuluhan
5. pembuatan bangunan pengendali erosi dan sedimen untuk mengurangi resiko yang dapat terjadi
Referensi:
Cooke, R.U. and J.C. Doornkamp. 1990. Geomorphology in Environmental Management. 2nd ed.
Notohanagoro, T. 2006. Perspektif Pemanfaatan Lahan Basah: Maslahat dan Mudharat.http://soil.faperta.ugm.ac.id/tj/1991/1996%20pers.pdf .
Diakses tanggal 14 Juni 2009.
Notohanagoro, T. 2006. Pemanfaatan Lahan Basah: Kontroversi yang Tidak Ada Habisnya. http://soil.faperta.ugm.ac.id/tj/1991/1996%20pema.pdf.
Diakses tanggal 14 Juni 2009.
Putinella, J. D. 2002. Permasalahan dan Dinamika Pantai Pada Daerah Wisata Pantai Baron dan Krakal, Yogyakarta. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.





