Soal Midtest Ekologi Hewan
- Jika hewan betina jadi penentu teritori, sebutkan dan jelaskan mekanisme yang dilakukan untuk mempertahankan teritori tersebut.
- Jika hewan jantan menjadi penentu teritori, maka dia akan mempertahankan berdasarkan kualitas teritorinya. Semakin baik kualitas teritori semakin besar energi/harga yang harus dikeluarkan/dibayarkan. Jelaskan maksud pernyataan diatas.
- Dalam menggunakan kemampuan kemampuan mengubah warna (Biocoloration) apa perbedaan antara karakter interspesipic dan intraspesific dan bagaimana proses itu dapat berlangsung.
- Apa perbedaan antara Mulerian dan Batesian coloration, berikan contoh siapa yang menggunakan dan untuk tujuan apa kedua fenomena ini terjadi. Apa manfaat kedua proses tersebut bagi hewan.
Jawaban
- Jika hewan betina yang jadi penentu teritori, biasanya hewan betina lebih cerewet dibandingkan pejantan dan lebih galak terlebih dimasa setelah melahirkan dan membesarkan anaknya, mekanisme yang seringkali dilakukan oleh hewan betina tersebut untuk mempertahankan teritori adalah bersuara dengan keras untuk mengontrol teritorialnya seperti yang dilakukan oleh Owa Jawa yang setiap pagi atau sore bersuara/bernyanyi untuk memberitahukan kepada hewan lain agar teritorinya tidak diusik, ataupun berupa bau-bauan dan gonggongan seperti pada anjing dan kicauan burung.
- Semakin baik kualitas teritori semakin besar energi/harga yang harus dikeluarkan/dibayarkan, maksudnya adalah semakin baik atau semakin banyak sumber ataupun keuntungan yang didapatkan hewan dari teritorinya (terutama SDA) baik keuntungan dari segi ketersediaan makanan ataupun untuk kawin dan membesarkan anaknya maka hewan akan benar-benar mempertahankannya, dan jika ada hewan lain yang melewati atau mengganggu teritorinya maka hewan pemilik teritori tidak akan segan untuk mengusir hewan pengganggu baik berupa peringatan bahkan dapat terjadi perkelahian yang dapat mengakibatkan kematian yang tentunya memerlukan energi yang banyak selama mempertahankannya. Hewan pemilik teritori juga akan selalu menjaga teritorinya dengan teratur dan tentu saja berbagai penandaan teritori ini memerlukan energi, dan jika dibayangkan hewan tidak hanya sekali melakukan penandaan.
- Perbedaan antara karakter interspesific dan intraspesific adalah pada karekter interspesific hanya melibatkan satu jenis spesies atau individu yang dalam pewarnaannya menunjukkan warna tubuh yang yang bervariasi (1 individu mampu menunjukkan perubahan warna berbeda) sesuai warna background yang ditempatinya untuk melindungi diri seperti dalam aposematisme pada katak Dendrobates pumilio, sedangkan pada karakter interspesifik satu inidividu (1 spesies) meniru warna spesies yang berbeda dari spesiesnya (terdapat model yang ditiru) dan hewan model dapat berupa hewan berbisa ataupun hewan sejenisnya tapi tidak satu spesies. Proses pewarnaan interspesifik terjadi karena faktor internal hewan yaitu faktor genetik dan fisiologis, sedangkan pada perwarnaan intraspesifik dilakukan dari proses pembelajaran (learning) yang melibatkan juga faktor fisiologis.
- Pada Mulerian coloratoin dua atau lebih spesies yang tidak dapat dimakan saling meniru satu sama lain contohnya pada kupu-kupu Heliconius atau kupu-kupu Monarch yang bertukar warna dengan kupu-kupu Viceroy, sedangkan pada Batesian coloration suatu spesies yang dapat dimakan (tidak berbahaya) meniru model/hewan yang tidak dapat dimakan (berbahaya) contohnya larva hawkmoth (ulat) meniru ular berbisa atau pada ular susu yang tidak berbisa meniru ular karang yang berbisa, selain itu dijumpai juga pada beberapa jenis lebah yang berbeda spesies. Jadi bedanya terletak pada model yang ditiru dan tingkat toksisitas. Kedua fenomena ini terjadi untuk menghindari predator atau sebagai mekanisme self defense. Keuntungannya bagi hewan adalah hewan yang menjadi prey (mangsa) mampu melanjutkan hidupnya dan berkembangbiak, sedangkan bagi predator perubahan dalam skala besar memudahkannya untuk mempelajari suatu penampakan sehingga cepat untuk menghindari mangsa terutama yang beracun.
![]()
Gambar. Mullerian coloration

Gambar. Batesian coloration

Gambar. Dendrobates pumilio dengan berbagai warna (interspesifik)
Referensi:
Campbell, et al. 2004. Biologi. Erlangga. Jakarta.
Shiddiq, et al. 2004. Interspecific and Intraspecific Views of Color Signals in The Strawberry Poison Frog Dendrobates pumilio. Journal of Experimental Biology 207, 2471-2485 (2004).
http://www.biologists.com/web/cob_copyright.html.
Diakses tanggal 16 April 2009.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar